Kamis, 25 Juli 2013

Menunggu mu | What ? Iya kamu :D


Zaman balum lagi beranjak dari Perang Dingin saat Sayyid Quthb menuliskan pikirannya pada tahun 1952. Pada sebuah artikel yang dulu terangkum diterbitkan Dirasah Al Islamiyah, didasarkan pengamatan yang mendalam dan perhitungan yang komprehensif . Saat itu Sayyid Quthb telah memprediksi akan terjadi benturan antara Islam dan Barat.
Pada tahu tahun 1952 itu Beliau menerbitkan sebuah tulisan berkaitan Islam yang akan mampu menghancurkan komunisme.  “Amerika dan sekutunya, saat ini sedang memperhatikan Islam. Mereka memerlukan kekuatan Islam untuk memerangi komunisme di Timur Tengah setelah mereka memerangi Islam 9 abad lebih dalam perang salib,” demikian tulis Syuhada yang syahid di tiang gantungan ini.

Kemudian Sayyid Quthb melanjutkan, segera setelah komunisme hancur, maka kekuatan Islam yang menjadi mangsa. “Islam dinginkan Amerika dan sekutunya bukan Islam yang menetang penjajahan, bukan Isalm yang melawan kediktatoran. Tetapi Islam yang menentang komunisme saja. Amerika menginginkan Islam yang bersifat Amerika.”
Sayyid Quthb merupakan seorang yang berpikiran dalam dan prespektif jauh kedepan. Apa yang dialami di dunia Islam saat ini, pernah menjadi pokok pemikiran Quthb beberapa tahun silam. “Demokrasi dalam Islam, keadilan dalam Islam dan kebaikan dalam Islam boleh dibahas dalam buku, majalah dan jurnal-jurnal. Namun memerintah dalam Islam, perundangan-undangan dalam Islam, dan juga kemenangan dalam Islam, tak satupun boleh disentuh dan diperbincangkan.Tidak lewat pena,tidak lewat kata, tidak pula lewat fatwa.”
Apa yang disebut diatas benar-benar terjadi saat ini. Hampir semua negeri Muslim termasuk Indonesia di borgol dengan berbagai jertan seperti hutang, kerjasama dan serangkaian stempel negative yang akan di lekatkan jika berkeras kepala dengan Islam. Apa yang membuat Sayyid Quthb mempunyai pandangan begitu jauh ke depan seperti itu? Menurut Sayyid Quthb, tak lain adalah Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah. Dalam bukunya, Taswir al Fanny fil Qur’an, Quthb menjelaskan dengan jelas terbaca “ Harapan ibuku yang paling besar adalah, agar Alloh membuka pinti hatiku, hingga aku bisa menghafal dan membaca Al Qur’an,” itu bagian tulisan Quthb yang telah hafal Qur’an sejak 10 tahun.
Lebih dari itu saat di penjara di bawah kekuasaan Jamal Abdul Nasir, beliau menulis sebuah karya monumental yaitu kitab Fi Zilalil Qur’an (dibawah lindungan Al Quran). Saat Quthb di penjara dalam sebuah sel kecil bersama 40 orang lainya yang mayoritas penjahat dan Kriminal. Itu belum pojo-ojo (belum apa-apaJ), siksaan fisik dan mental menjadi menu harian pemimpin Ikhwanul Muslimin ini. Salah satu siksaan mental oleh pengusa Mesir saat itu adalah, orang tapol (tahanan politik) dipaksa mendengarkan ceramah-ceramah sang presiden 20 jam dalam sehari. Dalam kondisi itlah Fi Zilil Qur’an di lahirkan.
Sebagaimana manusia lain, Syyid Quthb pernah di hinggapi perasaan lelah dan di dera rasa putus asa. Tahun1950 pernah ia berhenti menulis. Dalam sebuah artikel yang dulisnya, Quthb menyebutkan hampir saja putus asa. “ Saat perjuangan begitu bahit, saya di hinggapi perasaan putus asa di depan mata. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apa gunanya menulis? Apa nilainya makalah-makalah yang memenuhi majalah? Apakah tidak lebih baik kalau kita mempunyai pistol lalu keluar dan menyelesaikan masalah? Apa gunanya duduk di meja dan berpikir?”
Untungnya Sayyid Quthb kembali dari dukanya, kebangakitannya di latari kembali dari membaca tulisan-tulisannya. Beberapa prediksi di antara tulisan-tulisannya menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang membuat Quthb tak berhenti menulis., tak berhenti membangunkan semangat, tak berhenti menghitung-hitung masa depan. “Kekuatan kata-kata membuat saya terkejut. Mimpi-mimpi di masa lalu telah menjadi keyataan yang bisa diraba kini,” tulis Sayyid Quthb.
Kini tak banyak Muslim berperan seperti Quthb. Sebuah peran yang sepi dari glamor memang, dan pahit terkadang. Tapi peran seperti ini di butuhkan untuk membangun masa depan. Sebuah peran yang harus diambil oleh cendekiawan  dan intelektual Muslim.
Muslim-muslim yang tangguh pasti mampu, kata Sayyid Quthb. Sebab mereka punya segalanya. “Kita harus sudah lama mengatakan kepada manusia: Mereka yang dididik Islam lebih lurus jalannya, lebih kuat tekadnya, lebih mampu memikul tanggung jawab, lebih serius mengambil dan melakukan sesuatu. Sebab mereka punya hati nurani sebagai penjaga, punya agama sebagai sandaran dan punya Al Qur’an sebagai petunjuk jalan.” Kitakah Muslim Tangguh itu . . .???

Adobted From : SABILI No. 25 / 3 JUMADIL AWAL 1424
Twitter             : @nugrahajs


1 komentar: