Zaman balum lagi beranjak dari Perang
Dingin saat Sayyid Quthb menuliskan pikirannya pada tahun 1952. Pada sebuah
artikel yang dulu terangkum diterbitkan Dirasah Al Islamiyah, didasarkan
pengamatan yang mendalam dan perhitungan yang komprehensif . Saat itu Sayyid
Quthb telah memprediksi akan terjadi benturan antara Islam dan Barat.
Pada tahu tahun 1952 itu Beliau menerbitkan
sebuah tulisan berkaitan Islam yang akan mampu menghancurkan komunisme. “Amerika dan sekutunya, saat ini sedang
memperhatikan Islam. Mereka memerlukan kekuatan Islam untuk memerangi komunisme
di Timur Tengah setelah mereka memerangi Islam 9 abad lebih dalam perang salib,”
demikian tulis Syuhada yang syahid di tiang gantungan ini.
Kemudian Sayyid Quthb melanjutkan, segera
setelah komunisme hancur, maka kekuatan Islam yang menjadi mangsa. “Islam
dinginkan Amerika dan sekutunya bukan Islam yang menetang penjajahan, bukan
Isalm yang melawan kediktatoran. Tetapi Islam yang menentang komunisme saja. Amerika
menginginkan Islam yang bersifat Amerika.”
Sayyid Quthb merupakan seorang yang
berpikiran dalam dan prespektif jauh kedepan. Apa yang dialami di dunia Islam
saat ini, pernah menjadi pokok pemikiran Quthb beberapa tahun silam. “Demokrasi
dalam Islam, keadilan dalam Islam dan kebaikan dalam Islam boleh dibahas dalam
buku, majalah dan jurnal-jurnal. Namun memerintah dalam Islam,
perundangan-undangan dalam Islam, dan juga kemenangan dalam Islam, tak satupun
boleh disentuh dan diperbincangkan.Tidak lewat pena,tidak lewat kata, tidak
pula lewat fatwa.”
Apa yang disebut diatas benar-benar terjadi
saat ini. Hampir semua negeri Muslim termasuk Indonesia di borgol dengan
berbagai jertan seperti hutang, kerjasama dan serangkaian stempel negative yang
akan di lekatkan jika berkeras kepala dengan Islam. Apa yang membuat Sayyid
Quthb mempunyai pandangan begitu jauh ke depan seperti itu? Menurut Sayyid
Quthb, tak lain adalah Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah. Dalam bukunya, Taswir al Fanny fil Qur’an, Quthb menjelaskan
dengan jelas terbaca “ Harapan ibuku yang paling besar adalah, agar Alloh
membuka pinti hatiku, hingga aku bisa menghafal dan membaca Al Qur’an,” itu
bagian tulisan Quthb yang telah hafal Qur’an sejak 10 tahun.
Lebih dari itu saat di penjara di bawah
kekuasaan Jamal Abdul Nasir, beliau menulis sebuah karya monumental yaitu kitab
Fi Zilalil Qur’an (dibawah lindungan
Al Quran). Saat Quthb di penjara dalam sebuah sel kecil bersama 40 orang lainya
yang mayoritas penjahat dan Kriminal. Itu belum pojo-ojo (belum apa-apaJ), siksaan fisik dan mental menjadi menu harian pemimpin
Ikhwanul Muslimin ini. Salah satu siksaan mental oleh pengusa Mesir saat itu
adalah, orang tapol (tahanan politik) dipaksa mendengarkan ceramah-ceramah sang
presiden 20 jam dalam sehari. Dalam kondisi itlah Fi Zilil Qur’an di
lahirkan.
Sebagaimana manusia lain, Syyid Quthb
pernah di hinggapi perasaan lelah dan di dera rasa putus asa. Tahun1950 pernah
ia berhenti menulis. Dalam sebuah artikel yang dulisnya, Quthb menyebutkan
hampir saja putus asa. “ Saat perjuangan begitu bahit, saya di hinggapi
perasaan putus asa di depan mata. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apa
gunanya menulis? Apa nilainya makalah-makalah yang memenuhi majalah? Apakah
tidak lebih baik kalau kita mempunyai pistol lalu keluar dan menyelesaikan
masalah? Apa gunanya duduk di meja dan berpikir?”
Untungnya Sayyid Quthb kembali dari
dukanya, kebangakitannya di latari kembali dari membaca tulisan-tulisannya.
Beberapa prediksi di antara tulisan-tulisannya menjadi kenyataan. Sebuah
kenyataan yang membuat Quthb tak berhenti menulis., tak berhenti membangunkan
semangat, tak berhenti menghitung-hitung masa depan. “Kekuatan kata-kata
membuat saya terkejut. Mimpi-mimpi di masa lalu telah menjadi keyataan yang
bisa diraba kini,” tulis Sayyid Quthb.
Kini tak banyak Muslim berperan seperti
Quthb. Sebuah peran yang sepi dari glamor memang, dan pahit terkadang. Tapi
peran seperti ini di butuhkan untuk membangun masa depan. Sebuah peran yang
harus diambil oleh cendekiawan dan
intelektual Muslim.
Muslim-muslim
yang tangguh pasti mampu, kata Sayyid Quthb. Sebab mereka punya segalanya.
“Kita harus sudah lama mengatakan kepada manusia: Mereka yang dididik Islam
lebih lurus jalannya, lebih kuat tekadnya, lebih mampu memikul tanggung jawab,
lebih serius mengambil dan melakukan sesuatu. Sebab mereka punya hati nurani
sebagai penjaga, punya agama sebagai sandaran dan punya Al Qur’an sebagai
petunjuk jalan.” Kitakah Muslim Tangguh itu . . .???
Adobted
From : SABILI No. 25 / 3 JUMADIL AWAL 1424
Twitter
: @nugrahajs

shiiip
BalasHapus