Kamis, 12 Maret 2015

Mungkin Kamu Mulai Burnout . . . . .

Jika kita seorang pegawai, karyawan, pekerja mungkin kita sering merasa jenuh saat ditempat kerja.? Sebaiknya kita hati-hati, bisa jadi kita terserang Burnout. Yah itu memang agak asing istilanya. Burnout merupakan istilah yang menunjukkan sindrom di mana seorang karyawan merasa kecewa, lelah dan tidak tertarik lagi dengan pekerjaan. Prestasi kerjanya menurun dan sang karyawan seperti menarik diri. Beberapa orang, karena merasa tidak dapat pulih dari kondisi tersebut, meninggalkan karier di mana mereka pernah sukses, atau berperilaku negatif sehingga dipecat.
Istilah burnout pertama kali diutarakan dan diperkenalkan kepada masyarakat oleh Herbert Freudenberger pada tahun (1973). Freudenberger memberikan ilustrasi tentang apa yang dirasakan seseorang yang mengalami sindrom tersebut seperti gedung yang terbakar habis (burned-out). Suatu gedung yang pada mulanya berdiri megah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, setelah terbakar yang tampak hanyalah kerangka luarnya saja. Demikian pula dengan seseorang yang terkena burnout, dari luar segalanya masih nampak utuh, namun di dalamnya kosong dan penuh masalah (seperti gedung yang terbakar tadi).

Gejala berikut dapat mengindikasikan kita mengalami burnout:
  • Hilang energi. Bangun di pagi hari dan kita tetap merasa kurang energi. Kita merasa lelah meskipun sebenarnya sehat. Kondisi psikosomatik ini menunjukkan ketidakpuasan yang dimulai dalam pikiran telah menyebar ke tubuh.
  • Depresi. Hari demi hari, kita kian merasakan bekerja sebagai beban sehingga menciptakan depresi yang kronis.
  • Kurang motivasi. Kita tidak lagi memiliki antusiasme dalam bekerja. Anda cenderung kurang menyediakan diri untuk proyek-proyek baru dan tidak bekerja di kinerja puncak saat ini.
  • Sulit tidur.  Bagi banyak orang, kegelisahan pikiran membuat sulit tidur. Hal ini menciptakan lingkaran setan karena orang yang tidak cukup tidur lebih berpeluang melakukan pekerjaan dengan buruk, yang menyebabkan perasaan tidak mampu dan kelelahan.
  • Keputusasaan. Ini mungkin gejala yang paling merusak. Orang-orang yang burnout ingin meninggalkan pekerjaan mereka, tetapi mereka merasa bahwa tidak akan ada perusahaan lain yang menginginkan mereka. Mereka mulai kehilangan harapan atas masa depan, yang berdampak luas ke semua bidang kehidupannya.
Burnout terkait dengan bekerja dalam pekerjaan berkadar stress tinggi dalam jangka lama, dikombinasikan dengan kepribadian dan masalah pribadi. Sedikit stress  dapat menguntungkan kita, tapi stress yang terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh kita Jika terus berlanjut, kita berada pada titik di mana kita harus berhenti bekerja. Ibaratnya battery sudah kosong. Burnout dapat terjadi dalam profesi apa pun, tapi orang-orang yang bekerja dalam bidang layanan dan dukungan memiliki risiko lebih tinggi. Perawat, polisi, guru, dan staf pelayanan pelanggan dapat terjebak antara apa yang mereka inginkan dan apa yang dapat dilakukan organisasi. Orang yang memiliki tuntutan tinggi terhadap diri mereka sendiri dan yang bermasalah pribadi atau keluarga juga lebih rentan mengalami burnout. hati-hati ya . . . :D

Seringkali proses burnout berlangsung bertahap selama dua tahun atau lebih sebelum mencapai puncaknya:
 
  • Antusiasme: kita sangat termotivasi dalam pekerjaan, kita sehingga terlalu banyak menggunakan energi. 
  • Stagnasi: kita mulai melihat bahwa harapan, kita tidak terpenuhi dan mulai mengeluhkan harapan tersebut. 
  • Frustrasi: ada perasaan ketidakberdayaan, kekecewaan dan hilangnya kontrol. Antusiasme awal menyebabkan kelelahan kronis dan perasaan mudah tersinggung
  • Apatisme: motivasi dan kepercayaan diri hilang, berganti dengan kebosanan dan keterpisahan emosional. 
  • Keputusasaan: keyakinan akan masa depan telah menghilang. Penderita mengisolasi diri secara sosial, bertindak negatif atau menunjukkan tanda-tanda depresi.

Terapi dan pencegahan (catet ya......... :D)

Bila kita mengalami gejala burnout, sebaiknya kita mengambil cuti untuk beristirahat. Kita dapat berkonsultasi dengan psikolog, orang-orang terdekat/partner hidup (suami/istri) atau mentor kita untuk mencurahkan masalah dan mendapatkan nasihat. Berganti profesi yang kurang membuat stres dapat menjadi pilihan tindakan dalam jangka menengah atau panjang.

Untuk dapat mencegah burnout, kita harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk secara efektif mengatasi stres. Jadi, kita belajar mengenali sinyal stress pada diri kita dan bagaimana menyikapinya. Ada banyak pilihan metode manajemen stress yang dapat kita terapkan. Menerapkan gaya hidup seimbang diantaranya menjaga kesehatan jiwa dengan lebih mendekatkan kepada Alloh/Tuhan, dapat mencegah kita mengalami stress yang berakumulasi menjadi burnout.


Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar