Senin, 04 Juni 2012

Mencari Pemimpin Bangsa

Korea Selatan, misalnya, negara tersebut mampu bangkit pascaperang 1950-an dan menjadi salah satu macan ekonomi dunia saat ini karena proses perubahan radikal dan fundamental yang dilakukan oleh salah seorang pemimpinnya, yaitu Park Chung Hee.

Ia terinspirasi dari ayat, “Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubah dirinya ... (QS 13 : 11),” yang ditulis di sebuah masjid saat beliau berkunjung ke Malaysia pada dekade 1960-an. Park Chung Hee mampu mengubah bangsa Korea ke arah yang lebih baik dan mampu memberikan landasan yang kuat bagi perubahan itu sendiri.

Ajaran Islam secara tegas menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan variabel yang tidak boleh diabaikan dalam pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara. Alquran telah banyak memberikan gambaran tentang adanya hubungan positif antara pemimpin yang baik dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf AS, seorang nabi yang juga dipercaya untuk memegang amanah mengelola keuangan dan perekonomian masyarakat. Nabi Yusuf, dengan bermodalkan kejujuran dan kecerdasannya (QS 12 : 55), mampu menyelamatkan Mesir dari krisis pangan dan krisis ekonomi berkepanjangan.

Di bawah kepemimpinan beliau, Mesir mampu mempertahankan tingkat kemakmurannya, meskipun kondisi perekonomian global saat itu berada pada situasi yang tidak menguntungkan akibat musim paceklik yang sangat dahsyat sehingga suplai barang kebutuhan pokok menjadi terganggu.

Demikian pula dengan kepemimpinan Rasulullah SAW yang mampu menciptakan revolusi peradaban hanya dalam waktu 23 tahun. Beliau adalah tipikal pemimpin yang sangat luar biasa dan tidak ada tandingannya.

Potensi para sahabat mampu dioptimalkan dengan baik sehingga mereka dapat memerankan dirinya sebagai anasirut taghyir atau agenagen perubahan masyarakat.

Misalnya, Abdurrahman bin Auf RA, dengan potensi yang dimilikinya, oleh Rasul dijadikan sebagai kunci penting yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Kemudian, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA yang dipersiapkan oleh Rasulullah SAW sebagai negarawan besar. Demikian pula dengan Khalid bin Walid RA yang dioptimalkan perannya sebagai jenderal perang yang sangat disegani dan ditakuti dunia pada saat itu.

Ali bin Abi Thalib RA pun dididik menjadi ilmuwan dan pemimpin yang dipersiapkan sejak muda. Begitu juga dengan Abu Dzar Alghifari RA yang dididik menjadi tokoh penyeimbang dan pengingat penguasa untuk tidak bermain- main dengan jabatannya.

Masih banyak contoh para sahabat lainnya, yang mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia. Yang sangat luar biasa adalah Rasul mampu menjadikan mereka sebagai tim yang solid dan kompak. Sehingga, melalui tangan mereka, dakwah Islam tersebar luas ke seluruh jazirah dan penjuru dunia.

Kesemuanya membuktikan bahwa persoalan kepemimpinan bukan merupakan persoalan kecil yang dapat dipermainkan. Ia adalah persoalan serius yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di yaumil akhir.

Karena itu, ajaran Islam telah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati di dalam memilih pemimpin sebab salah memilih pemimpin berarti sama dengan turut berkontribusi dalam menciptakan kesengsaraan masyarakat. Tanggung jawab seorang pemimpin sangat besar, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.

Wajarlah jika Rasulullah SAW tidak pernah bisa tidur nyenyak sebelum memastikan bahwa masyarakatnya bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan, hal tersebut terbawa hingga menjelang ajalnya. Beliau sangat mengkhawatirkan keadaan umatnya.

Sebuah teladan yang sangat luar biasa, ingat kepada nasib rakyatnya hingga nyawa berpisah dari jasad. Karena itu, Rasulullah telah mengingatkan bahwa pemimpin yang baik dan adil akan menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan dan perlindungan Allah di hari kiamat nanti (HR Bukhari).

Sebaliknya, pemimpin yang kejam dan tidak amanah merupakan salah satu dari tiga kelompok yang dikategorikan sebagai penyakit kronis agama (HR Daelamy), yang hanya akan membawa kemudharatan dan kesengsaraan bagi agama dan masyarakat. Ciri pemimpin yang baik Ada beberapa ciri pemimpin yang baik, yang akan berhasil dalam kepemimpinannya.

Pertama, senantiasa bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran. Saking pentingnya masalah ini sampai-sampai Rasulullah SAW menyatakan bahwa satu jam keadilan pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan seribu rakaat shalat sunah (alhadis). Pemimpin yang adil; di samping ilmunya para ulama, kemurahan kaum kaya, dan doanya kaum dhuafa; akan menjadi pilar utama yang menjadi penopang masyarakat yang kuat dan berhasil (alhadis).

Kedua, senantiasa menjadi pengayom dan pembela masyarakat sehingga masyarakat merasa aman dan terlindungi. Kehidupan pun menjadi tenteram dan bahagia.

Kebijakan yang dikeluarkannya pun tidak akan menjadi kebijakan yang merugikan rakyat. Ketika terjadi konflik antara kepentingan elite dan kepentingan rakyat kecil, ia akan lebih memilih membela kepentingan rakyat kecil.

Ketiga, berpihak dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Khalifah Umar bin Khattab RA adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Tidak hanya itu, beliau pun menyatakan, “Jangankan manusia, binatang pun tidak boleh ada yang kelaparan,” selama masa pemerintahannya.

Demikian pula dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mampu mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Inilah model kepemimpinan yang selalu didambakan kehadirannya oleh seluruh masyarakat kapan pun dan di mana pun, termasuk di negara yang kita cintai ini. Mudah- mudahan, melalui pemimpin yang demikian, Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih sejahtera. Wallahu’alam.


Oleh : Didin Hafidhuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar