Korea Selatan, misalnya, negara tersebut mampu bangkit pascaperang
1950-an dan menjadi salah satu macan ekonomi dunia saat ini karena
proses perubahan radikal dan fundamental yang dilakukan oleh salah
seorang pemimpinnya, yaitu Park Chung Hee.
Ia terinspirasi dari ayat, “Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu
kaum sehingga kaum tersebut mengubah dirinya ... (QS 13 : 11),” yang
ditulis di sebuah masjid saat beliau berkunjung ke Malaysia pada dekade
1960-an. Park Chung Hee mampu mengubah bangsa Korea ke arah yang lebih
baik dan mampu memberikan landasan yang kuat bagi perubahan itu sendiri.
Ajaran Islam secara tegas menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
variabel yang tidak boleh diabaikan dalam pembangunan masyarakat,
bangsa, dan negara. Alquran telah banyak memberikan gambaran tentang
adanya hubungan positif antara pemimpin yang baik dengan tingkat
kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf AS,
seorang nabi yang juga dipercaya untuk memegang amanah mengelola
keuangan dan perekonomian masyarakat. Nabi Yusuf, dengan bermodalkan
kejujuran dan kecerdasannya (QS 12 : 55), mampu menyelamatkan Mesir dari
krisis pangan dan krisis ekonomi berkepanjangan.
Di bawah kepemimpinan beliau, Mesir mampu mempertahankan tingkat
kemakmurannya, meskipun kondisi perekonomian global saat itu berada pada
situasi yang tidak menguntungkan akibat musim paceklik yang sangat
dahsyat sehingga suplai barang kebutuhan pokok menjadi terganggu.
Demikian pula dengan kepemimpinan Rasulullah SAW yang mampu menciptakan
revolusi peradaban hanya dalam waktu 23 tahun. Beliau adalah tipikal
pemimpin yang sangat luar biasa dan tidak ada tandingannya.
Potensi para sahabat mampu dioptimalkan dengan baik sehingga mereka
dapat memerankan dirinya sebagai anasirut taghyir atau agenagen
perubahan masyarakat.
Misalnya, Abdurrahman bin Auf RA, dengan potensi yang dimilikinya, oleh
Rasul dijadikan sebagai kunci penting yang mampu menggerakkan
perekonomian masyarakat. Kemudian, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA
yang dipersiapkan oleh Rasulullah SAW sebagai negarawan besar. Demikian
pula dengan Khalid bin Walid RA yang dioptimalkan perannya sebagai
jenderal perang yang sangat disegani dan ditakuti dunia pada saat itu.
Ali bin Abi Thalib RA pun dididik menjadi ilmuwan dan pemimpin yang
dipersiapkan sejak muda. Begitu juga dengan Abu Dzar Alghifari RA yang
dididik menjadi tokoh penyeimbang dan pengingat penguasa untuk tidak
bermain- main dengan jabatannya.
Masih banyak contoh para sahabat lainnya, yang mampu menorehkan tinta
emas dalam sejarah peradaban manusia. Yang sangat luar biasa adalah
Rasul mampu menjadikan mereka sebagai tim yang solid dan kompak.
Sehingga, melalui tangan mereka, dakwah Islam tersebar luas ke seluruh
jazirah dan penjuru dunia.
Kesemuanya membuktikan bahwa persoalan kepemimpinan bukan merupakan
persoalan kecil yang dapat dipermainkan. Ia adalah persoalan serius yang
kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di yaumil akhir.
Karena itu, ajaran Islam telah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati
di dalam memilih pemimpin sebab salah memilih pemimpin berarti sama
dengan turut berkontribusi dalam menciptakan kesengsaraan masyarakat.
Tanggung jawab seorang pemimpin sangat besar, baik di hadapan Allah
maupun di hadapan manusia.
Wajarlah jika Rasulullah SAW tidak pernah bisa tidur nyenyak sebelum
memastikan bahwa masyarakatnya bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan, hal
tersebut terbawa hingga menjelang ajalnya. Beliau sangat mengkhawatirkan
keadaan umatnya.
Sebuah teladan yang sangat luar biasa, ingat kepada nasib rakyatnya
hingga nyawa berpisah dari jasad. Karena itu, Rasulullah telah
mengingatkan bahwa pemimpin yang baik dan adil akan menjadi salah satu
dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan dan perlindungan Allah di
hari kiamat nanti (HR Bukhari).
Sebaliknya, pemimpin yang kejam dan tidak amanah merupakan salah satu
dari tiga kelompok yang dikategorikan sebagai penyakit kronis agama (HR
Daelamy), yang hanya akan membawa kemudharatan dan kesengsaraan bagi
agama dan masyarakat. Ciri pemimpin yang baik Ada beberapa ciri pemimpin
yang baik, yang akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Pertama, senantiasa bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran.
Saking pentingnya masalah ini sampai-sampai Rasulullah SAW menyatakan
bahwa satu jam keadilan pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan
seribu rakaat shalat sunah (alhadis). Pemimpin yang adil; di samping
ilmunya para ulama, kemurahan kaum kaya, dan doanya kaum dhuafa; akan
menjadi pilar utama yang menjadi penopang masyarakat yang kuat dan
berhasil (alhadis).
Kedua, senantiasa menjadi pengayom dan pembela masyarakat sehingga
masyarakat merasa aman dan terlindungi. Kehidupan pun menjadi tenteram
dan bahagia.
Kebijakan yang dikeluarkannya pun tidak akan menjadi kebijakan yang
merugikan rakyat. Ketika terjadi konflik antara kepentingan elite dan
kepentingan rakyat kecil, ia akan lebih memilih membela kepentingan
rakyat kecil.
Ketiga, berpihak dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Khalifah
Umar bin Khattab RA adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap
malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Tidak hanya
itu, beliau pun menyatakan, “Jangankan manusia, binatang pun tidak
boleh ada yang kelaparan,” selama masa pemerintahannya.
Demikian pula dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mampu
mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat hanya dalam waktu kurang
dari dua tahun. Inilah model kepemimpinan yang selalu didambakan
kehadirannya oleh seluruh masyarakat kapan pun dan di mana pun, termasuk
di negara yang kita cintai ini. Mudah- mudahan, melalui pemimpin yang
demikian, Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih
sejahtera. Wallahu’alam.
Oleh : Didin Hafidhuddin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar